Profil Iskandar ST

satya-lencanaDi bawah bendera PT Star Indonesia yang dia dirikan, Iskandar sukses membangun bisnisnya. Di usianya yang terbilang muda, dia telah menjelma menjadi seorang pengusaha yang cukup disegani di Kota Medan.

 Namun tak banyak orang tahu bahwa Iskandar membangun bisnisnya dari NOL. Bukan dari limpahan harta kekayaan warisan orang tuanya. Bisnis yang dia bangun sesungguhnya diawali dengan penuh pahit dan getir.

Iskandar lahir di Langsa, Aceh Timur, Aceh, 9 November 1967. Dia anak ke-7 dari 8 bersaudara, 5 laki-laki dan 3 perempuan. Ayahnya bernama T Insja dan ibunya, Rita.

Masa kecilnya hingga usia remaja, banyak dihabiskan di terminal dan pasar. Tetapi bukan untuk bermain-main atau nongkrong seperti kebiasaan buruk kebanyakan anak-anak terminal dan pasar, melainkan untuk membantu orang tuanya berjualan nasi.

Ayah dan ibunya memang membuka usaha kedai nasi kecil-kecilan di Terminal dan Pasar Langsa. Selain membantu orang tuanya berjualan nasi, Iskandar juga berdagang asongan. Menjajakan rokok, permen, dan sebagainya, dengan berkeliling terminal dan pasar.

Di terminal dan pasar Iskandar bergaul dengan semua orang . Dia juga terbiasa melihat kerasnya kehidupan di terminal dan pasar. Mungkin karena pengaruh banyak bergaul dengan orang-orang di terminal itu pula yang ikut mempengaruhi sifat, mental, dan karakternya hingga ia dewasa dan memberi andil bagi kesuksesannya kelak sebagai pengusaha di perantauan.

Meski terlahir sebagai anak berdarah Tionghoa, sejak kecil Iskandar memang terbiasa bergaul dengan siapa saja tanpa memandang suku, agama, dan status sosial. Dari SD hingga SMA kelas II, teman-temannya di sekolah juga lebih banyak bukan dari warga keturunan.

Jiwa bisnisnya telah ditempah sejak duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri 11 Langsa. Penghasilan orang tuanya dari berjualan nasi, jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. Itu yang mendorongnya ingin turut membantu orang tuanya dengan berjualan di kaki lima, kadang kala juga berjualan asongan.

Sewaktu Iskandar memilih ikut membantu berjualan nasi dan berdagang asongan di terminal, orang tuanya sebenarnya melarang. Baik ayahnya, terutama ibunya ingin Iskandar fokus sekolah dan belajar. Terlebih sewaktu naik ke kelas III, di sekolahnya Iskandar hanya naik percobaan.

Namun akhirnya kedua orang tuanya mengizinkan berjualan di terminal sekaligus membantu orang tuanya, setelah Iskandar berjanji tidak akan meninggalkan pelajaran di sekolahnya. Setiap sepulang sekolah, siangnya Iskandar berjualan di terminal dan pasar sampai sore. Semua hasil penjualan dia serahkan kepada ibunya. Malam harinya, Iskandar membuka kembali buku-buku pelajarannya dan menyelesaikan semua tugas yang diberikan gurunya.

Hingga tiba saat pembagian rapor kenaikan kelas, Iskandar berhasil meraih juara di kelasnya. Meski belum juara I, dia naik ke kelas IV dengan prestasi yang membuat orang tuanya bangga. Sejak itu prestasi belajarnya terus menanjak hingga tamat SD, bahkan sampai SMA selalu mendapat ranking 1-3 di kelasnya.

Selepas tamat SD, Iskandar melanjutkan pendidikannya ke SMPN 1 Langsa. Di usianya yang mulai menanjak remaja, rutinitasnya tak berubah. Sehabis pulang sekolah, dia tak malu tetap berdagang rokok atau membantu orang tuanya berjualan nasi.

Cobaan Berat

Otaknya yang terbilang encer, membuat kesibukannya bertambah, karena Iskandar juga mulai mengajar les privat kepada anak-anak tetangganya maupun rekan-rekan satu sekolahnya. Bahkan ada juga di antara murid privat-nya itu jenjangnya hanya lebih rendah satu kelas. Saat dia duduk di kelas III, dia mengajar privat mata pelajaran kelas II. Upahnya sebagai guru privat saat itu  Rp6.000 per bulan.

Hal itu berlangsung hingga cobaan berat datang di tahun 1984. Saat Iskandar duduk di bangku kelas II SMAN 1 Langsa, ibunya meninggal dunia akibat penyakit ginjal. Ketiadaan biaya membuat ayahnya tak sanggup membawa ibunya mendapatkan perobatan yang layak di rumah sakit. Enam bulan kemudian, giliran ayahnya menyusul sang ibu dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa.

Sebagai anak lelaki paling kecil dan paling dekat dengan ayah dan ibunya, Iskandar saat itu benar-benar terpukul. Dia seolah tak siap menerima kenyataan kehilangan ayah dan ibu yang sangat menyayanginya. Jiwanya limbung. Gairah hidupnya tiba-tiba hilang. Dia sempat tak bersemangat melanjutkan sekolah, apalagi berdagang asongan atau melanjutkan usaha kedai nasi orang tuanya di terminal dan pasar.

Dorongan moril saudara-saudara dan kerabatnya yang membuatnya tersadar bahwa hidupnya harus terus berlanjut dan masa depannya harus terus dirajut. Untuk melupakan kesedihan dan kenangan terhadap orang tuanya yang telah tiada, saat naik ke kelas III, Iskandar memutuskan pindah sekolah ke Banda Aceh.

Ikut abang-abangnya yang kuliah di Banda Aceh, Iskandar masuk ke SMA Methodist. Di sinilah awalnya dia pertama kali mengenal Mery, yang kemudian menjadi istrinya sampai sekarang.

Belum lama menjalin hubungan pacaran, pada tahun 1986 Iskandar harus berpisah dengan adik kelasnya itu. Iskandar pindah ke Kota Medan untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik Universitas Medan Area (UMA).

Keberangkatannya ke Medan saat itu pun sebenarnya terbilang nekat. Sebab saudara-saudaranya hanya memberi bekal seadanya. Di Medan, Iskandar tinggal menumpang di rumah kerabatnya di Jalan Sei Kera. Sebagai ‘bayarannya’ Iskandar mengajar les privat kepada anak kerabat tempat dia tinggal menumpang itu.

Namun untuk makan sehari-hari, ongkos angkot pulang-pergi kuliah, dan lainnya, Iskandar harus menanggungnya sendiri. Karena faktor ketiadaan biaya ini kuliahnya sempat tersendat-sendat. Iskandar baru berhasil meraih gelar sarjananya tahun 2003 atau 17 tahun kemudian.

Tahun 1988 saat baru menjalani dua semester, kuliahnya  mulai tersendat. Bahkan dia beberapa kali dikeluarkan dosen dari kelas dan tidak boleh mengikuti ujian karena belum membayar uang kuliah. Karena ketiadaan biaya itu, Iskandar semakin tidak fokus kuliah. Sebab, jangan kan membayar uang kuliah, untuk biaya hidup sehari-hari pun dia sudah nyaris tak mampu.

Lapar karena tak makan semakin sering dia tahankan. Hampir setiap hari sarapan pagi dan makan siang dirapel dengan makan lontong sate. Hanya namanya saja lontong sate, padahal yang dimakan hanya berupa lontong saja, tanpa dengan satenya.

Tetapi dalam kondisi yang sulit itu Iskandar tidak mau membebani saudara-saudara maupun kerabatnya dengan meminta bantuan. Dia pun memilih mencari pekerjaan. Pekerjaan apa saja asal halal. Dia pernah menjadi sales komputer. Menjajakan komputer dari kantor ke kantor. Dia juga pernah menjadi sales buku pelajaran bahasa Inggris dan lain-lain.

 Saat sebuah koran harian sore lokal di Medan membuka lowongan kerja, dia pun mencoba membuat lamaran dan diterima sebagai wartawan. Dia pun menjalankan profesi sales dan wartawan itu tanpa melupakan tugasnya mengajar les privat setiap malam.

Mendirikan EO

Meski telah bekerja, penghasilan yang dia peroleh tak seberapa. Hanya saja dengan profesi yang ditekuninya, pergaulan Iskandar semakin luas. Karena kesibukannya bekerja, Iskandar sempat memilih cuti dari kuliah selama beberapa semester.

 Tahun 1988 untuk pertama kalinya dia mendirikan event organizer bernama Yong’s Iskandar Entertaintmen. Event perdananya adalah menggelar festival senam kebugaran di Deli Plaza. Tanpa modal dan tanpa dukungan sponsor, event ini sukses. Saat itu dia untung Rp400 ribu dari event ini. Semua keuntungan dia belikan Vespa seken. Itulah pertama kali dia punya sepeda motor sendiri.

Waktu itu, Iskandar membeli Vespa seken juga karena ada motivasi lain. Dia ingin bisa setiap hari mengantar-jemput Mery, sang pacar. Saat itu Mery memang sudah ‘menyusulnya’ ke Medan untuk melanjutkan kuliah. Iskandar tidak tega melihat Mery ke mana-mana naik becak.

Namun ternyata umur Vespa seken itu hanya bertahan dua bulan. Event kedua Yong’s Iskandar Entertainment yang menggelar Gempita Tari, juga sukses dan meriah. Sayangnya, dari segi finansial Iskandar merugi.

Untuk menutupi kerugian, vespa kesayangannya harus dilego. Hasil penjualan vespa bahkan belum cukup menutupi semua utangnya. Iskandar masih berutang sekitar Rp175 ribu kepada pemilik sound system yang dia sewa untuk acara itu.

Dia pun harus mencicil membayar utangnya kepada si pemilik. Ada Rp5.000 dia kasih, ada Rp20.000 dia bayar, sampai akhirnya si pemilik sound system iba melihat Iskandar hingga kemudian menganggap lunas utangnya yang tinggal Rp50.000 lagi. Tak cuma itu, si pemilik sound system bahkan mendorong Iskandar membuat event lagi dan tidak perlu sungkan menyewa sound systemnya dengan membayar belakangan.

Sejak itu Iskandar tak pernah berhenti berkreasi. Di bawah bendera Yong’s Iskandar Entertainment dia terus menggelar event kecil-kecilan seperti mengadakan festival hingga membawa artis masuk kota keluar kota. Hampir setiap eventnya berlangsung meriah dan sukses.

Tetapi tak banyak orang yang tahu bahwa di balik kesuksesan dan kemeriahan setiap event yang dia gelar, tak selalu membawa keuntungan secara finansial. Tak jarang Iskandar justru merugi.

Dia bahkan pernah pingsan di kamar indekosnya dan menjalani opname di rumah sakit gara-gara bekerja terlalu keras dan tak makan selama tiga hari karena tak punya uang lagi akibat eventnya sukses tetapi merugi.

Begitulah, Iskandar tak kenal menyerah dan putus asa. Jatuh bangun dengan event organizernya. Dari jerih payahnya, sedikit demi sedikit Iskandar bisa membeli sepeda motor merek Binter yang terbilang mewah pada masa itu.

‘Proyek Besar’

Tahun 1994, datang tawaran kerja sama dari perusahaan besar otomotif untuk mempromosikan mobil keluaran terbaru. Perusahaan itu tertarik bekerja sama karena melihat event-event yang digelar Iskandar selalu sukses dan meriah.

Bagi Iskandar ini merupakan sebuah tantangan baru. Di samping membuat event, Iskandar juga harus membuat spanduk dalam jumlah yang cukup banyak dan harus sesuai dengan disain yang dipesan kliennya.

Sebelum ke Iskandar, perusahaan otomotif itu sebenarnya telah menawarkan kerja sama ini kepada EO-EO lain di Medan. Tetapi saat itu tidak ada EO yang menyanggupinya. Selain karena ini ‘proyek besar’ kliennya itu juga sangat ketat dalam menilai hasil kerja sama dengan mitranya.

Di rumah kontrakannya, selepas dari pekerjaannya sebagai wartawan dan mengajar les privat, malam harinya Iskandar belajar membuat spanduk. Semua spanduk lebih banyak dikerjakan secara manual. Sebab saat itu teknologi pembuatan spanduk belum secanggih sekarang.

Untuk menyiapkan semua spanduk yang dipesan, Iskandar bekerja sendiri dibantu satu orang anggotanya. Setelah selesai, Iskandar terjun langsung memajang spanduk-spanduk itu di tempat-tempat strategis. Dia juga biasa memanjat pohon-pohon atau tiang listrik untuk memajang spanduk-spanduk tersebut.

Hingga akhirnya proyek itu selesai dan sukses. Jerih payah dan kerja kerasnya membuahkan hasil dan laba yang lumayan besar. Inilah awal kehidupan ekonominya mulai berubah dan membaik. Sejak itu nama Iskandar semakin dikenal di dunia EO di Medan. Selain menerima tawaran order untuk membantu mempromosikan berbagai produk, Iskandar juga tetap berkreasi menggelar berbagai kegiatan di bidang EO.

Saat menikah dengan Mery di tahun 1996, Iskandar telah memiliki rumah sebanyak lima pintu, termasuk di antaranya rumah di Komplek Griya Riatur Indah, Medan. Di usia tersebut Iskandar juga sudah memiliki beberapa mobil pribadi maupun untuk operasional perusahaannya.

Tahun 1996, dia mendirikan PT Star Indonesia. Di tahun ini pula untuk pertama kalinya dia mendapat order untuk membuat billboard atau papan iklan. Order itu datang dari perusahaan minuman. Lokasi pemasangan billboard bukan di Kota Medan, melainkan di Lhokseumawe dan Banda Aceh.

Saat itu Iskandar sama sekali tak tahu cara membuat billboard. Namun bukan Iskandar namanya bila menolak tantangan. Iskandar menyanggupinya. Sambil belajar bagaimana cara membuat billboard, Iskandar pelan-pelan mencoba menyelesaikan pesanan perusahaan pembuat sirup itu.

Dia ikut menggosok, mendempul, dan mengecat sendiri billboard-billboard dari awal hingga jadi dan siap didirikan. Agar sesuai pesanan, dia minta contoh-contoh bahannya ke pihak pemesan. Setelah selesai, Iskandar ikut langsung menggali dan menyemen fondasi saat mendirikan billboard-billboard itu di lokasi-lokasi yang telah ditentukan di Lhokseumawe dan Banda Aceh. Proyek itu berlangsung hingga 1997 dan sukses.

Pada tahun 1997 itu Iskandar kembali mendapat tawaran kerja sama dari perusahaan otomotif. Kali ini tak hanya membuat event dan spanduk promosi, tetapi juga membuat billboard. Proyek ini juga sukses dikerjakan Iskandar.

Melihat peluang bisnis di bidang jasa periklanan saat itu sangat prospektif, Iskandar mendirikan papan-papan reklame di Kota Medan sebagai media promosi. Nama Iskandar dengan benderanya PT Star Indonesia semakin berkibar sebagai pengusaha EO maupun advertising atau jasa periklanan.

Saat badai krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998, banyak perusahaan periklanan yang terkena imbasnya dan tiarap. Sebab perusahaan-perusahaan pemasang iklan juga menurun drastis karena ikut kena imbas krismon.

Namun di tahun itu pula Iskandar justru ‘tancap gas.’ Di tahun-tahun itu dia banyak mendirikan papan reklame di Kota Medan. Hampir semua sudut maupun tempat-tempat strategis berdiri papan reklamenya untuk media promosi.

Ternyata spekulasi bisnis Iskandar ini tak sia-sia. Saat dampak badai krismon perlahan mulai berkurang, satu per satu papan reklamenya laku dipesan pemasang iklan. Hingga akhirnya semua papan reklamenya penuh berisi iklan, bahkan perusahaan-perusahaan antre untuk memasang iklan di papan reklamenya.

Sejak itu Iskandar pun semakin diperhitungkan sebagai salah satu pengusaha jasa periklanan terbesar di Kota Medan. Dia pun diakui sebagai pengusaha advertising papan atas di Kota Medan hingga saat ini.

Menjadi Pionir

Iskandar bukan saja kreatif dan jago membaca peluang pasar. Dia juga dikenal sebagai pionir di bidang penyelenggara pameran di Medan. Tahun 2000, dengan bendera PT Star Indonesia, Iskandar merambah ke bisnis pameran. Mulai dari pameran perdagangan, pendidikan, kesehatan, pariwisata, elektronik, otomotif, bursa kerja, hingga pameran supranatural pernah dia gelar di Medan.

Semua pameran digelar dengan berskala nasional, bahkan internasional karena juga kerap melibatkan peserta-peserta pameran dari luar negeri. Setiap event pameran yang digelar Iskandar selalu sukses dan meriah. Iskandar pun selalu mendapat pujian dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah karena dengan event-event pameran yang diselenggarakannya itu sangat membantu program-program pemerintah mengembangkan perekonomian masyarakat.

Sejak itu banyak perusahaan EO di Medan yang mulai ikut jejak Iskandar menggelar event-event pameran. Kota Medan pun semakin ramai dengan event-event pameran. Namun belum ada yang menandingi kesuksesan PT Star Indonesia.

Di masa Wali Kota Medan Abdillah tahun 2002, Iskandar juga sukses menggagas Kesawan Square,sebuah kawasan pusat jajanan malam terbesar di Kota Medan di Jalan Ahmad Yani. Kesawan Square bahkan sempat menjadi ikon kebanggaan masyarakat Kota Medan dan Sumut yang sangat terkenal hingga ke mancanegara.

Hampir setiap malam ratusan bahkan ribuan orang duduk santai menikmati beragam kuliner khas Sumut yang disajikan di Kesawan Square. Turis domestik maupun asing yang datang ke Kota Medan tak merasa lengkap bila tak singgah ke Kesawan Square,Namun ditutup pada tahun 2008 dikarenakan ketiadaan gudang penyimpanan gerobak para pedagang yang mencapai ratusan .

Dalam menjalankan bisnis EO, tak selamanya berjalan mulus dan sukses. Tahun 2005 dia pernah menggelar Festival Shaolin di Pardede Hall, yang seluruh pemainnya berasal dari Tiongkok. Tetapi festival itu batal karena polisi tidak mengeluarkan izin keramaian.

Padahal saat itu tiket sudah hampir habis dibeli penonton. Bahkan penataan lokasi dan panggung acara sudah seluruhnya siap. Saat itu Iskandar bersikukuh untuk tetap menyelenggarakan festival itu. Polisi sampai mengerahkan sekitar 200 personel untuk menyegel lokasi acara dan membubarkan festival itu.

Tidak cuma itu, Iskandar bahkan sempat ditangkap dan dibawa ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan karena dianggap ‘membandel.’ Dia memang tidak sampai ditahan. Namun akibat pembatalan festival itu, Iskandar mengalami kerugian hingga mencapai Rp300 juta. Dia juga harus mengembalikan uang pembelian tiket penonton.

Begitulah. Namun bagi Iskandar, jatuh bangun atau untung rugi dalam berbisnis adalah hal biasa. Yang terpenting baginya adalah bagaimana menjaga kepercayaan para mitra dan masyarakat terhadap perusahaannya agar tetap baik.

Maka itu sekali waktu saat membuat event festival atau pameran, secara kasat mata penyelenggaraannya sukses dan meriah, tetapi secara finansial Iskandar sebenarnya merugi. Tetapi bagi Iskandar itu bukanlah suatu kerugian. Dia selalu optimistis bahwa setelah itu akan ada tawaran-tawaran baik yang menguntungkan secara finansial datang kepadanya.

 “Aku memang rugi secara finansial, tetapi kegiatanku sukses dan meriah, namaku dan perusahaanku tetap bagus. Bagiku itu yang terpenting.” Begitu prinsip Iskandar.

Di bisnis jasa periklanan, hambatan dan tantangan yang dihadapi Iskandar juga bukan terbilang mudah. Sebab bukan semata-mata menghadapi peliknya urusan birokrasi di pemerintahan, tetapi juga faktor-faktor non teknis yang kerap muncul di lapangan.

Faktor persaingan bisnis dan kerasnya tantangan di lapangan, merupakan ‘romantika’ yang sudah biasa dialaminya. Mungkin dulu sewaktu Iskandar muda biasa bergaul di terminal dan pasar, membuatnya luwes dalam bergaul termasuk menghadapi kerasnya hidup di lapangan. Berhadapan dengan preman pun sudah biasa baginya.

Pernah sekali waktu saat dia ingin mendirikan billboard di kawasan Sekip, Iskandar diminta membayar ‘upeti’ oleh preman setempat. Lehernya bahkan sempat dikalungin clurit. Namun dia tetap melawan. Berkat keluwesannya dalam bergaul, akhirnya semua hambatan di lapangan bisa diatasi dan billboard-nya bisa berdiri dan aman.

Setelah sukses membangun bisnisnya di bidang jasa EO dan periklanan, Iskandar pun makin melebarkan sayap bisnisnya ke bidang-bidang lain. Ia membuka bisnis penjualan sepeda motor dan mobil, restoran, properti, angkutan becak motor, telekomunikasi, dan sejumlah bisnis lainnya.

Belakangan dia juga merambah ke bisnis media dengan mendirikan Star Media Grup yang mengelola surat kabar Harian Andalas, surat kabar mingguan KPKPos, radio berita Starnews 102,6 FM, dan media online Starberita.com.

Obsesi

Kini di usia 45 tahun pada 9 November 2012 lalu, Iskandar telah menjadi pengusaha muda sukses di Kota Medan. Namun yang pasti bagi Iskandar tidak ada jalan instan untuk mencapai tangga kesuksesan.

 “Kesuksesan hanya bisa diraih dengan kerja keras, keberanian, semangat, motivasi, pantang menyerah, membina relasi, dan cerdas menyikapi tantangan, sebab di balik tantangan pasti ada peluang. Kejarlah cita-citamu setinggi langit, tetapi mulailah cita-citamu setinggi langit-langit.

Artinya, raihlah cita-cita secara bertahap karena kesuksesan tak mungkin diraih dalam sekejap.  Ingin jadi pengusaha sukses tidak perlu banyak tahu ,tetapi cukup hanya 3 Tahu: Tahu Diri, Tahu Budi, dan Tahu Kondisi.” Begitu kata Iskandar membagi tips suksesnya.

Selain itu di balik kesuksesannya Iskandar juga mengaku ada peran dan dukungan keluarga yang sangat besar kepadanya terutama dari sang istri tercinta. Berkat dukungan yang sangat besar dari sang istrinya itulah yang membuatnya kuat menghadapi jatuh bangun dalam perjalanan bisnisnya hingga bisa sukses seperti sekarang.

Iskandar dan Mery kini dianugerahi tiga orang putra-putri . Si sulung, Cynthia Putri Iskandar telah berusia 15 tahun (lahir 1997), lalu Reinhart Putra Iskandar berusia 11 tahun (lahir 2001), dan si bungsu, Richard Putra Iskandar berusia 8 tahun (lahir 2004).

Hanya satu hal yang masih menjadi penyesalan Iskandar hingga kini, dia tidak sempat membahagiakan kedua orang tuanya. Jika terkenang dengan kedua orang tuanya yang telah lama tiada, Iskandar sering merasa batinnya hampa.

Sering dia saat jalan-jalan liburan ke luar negeri, hatinya tidak kuat jika melihat ada orang yang tampak begitu bahagia menggandeng orang tuanya berjalan-jalan. Saat-saat seperti itu dia biasanya langsung sedih dan buru-buru mengalihkan pandangannya karena terkenang dengan kedua orang tuanya itu.

Aktivitas Iskandar tak hanya semata-mata berbisnis. Dia juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Dia juga dikenal sebagai pengusaha yang berjiwa sosial tinggi terutama terhadap masyarakat kurang mampu.

Lebih 30 organisasi yang dia pernah duduk sebagai penasihat dan pengurus, mulai dari organisasi kemasyarakatan maupun organisasi profesi serta olahraga.

Iskandar tercatat pernah menjadi Ketua Asosiasi Perusahaan  Pameran Indonesia (Asperapi) Sumut, Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) Sumut, pengurus teras HIPMI Sumut, Pengurus PSMS Medan, Ketua Umum DPP Korps Wartawan Republik Indonesia (KOWRI), serta menjadi pengurus di sejumlah organisasi profesi lainnya. Iskandar juga mendirikan Aliansi Pers Indonesia (API) dan duduk sebagai Ketua Umum DPP hingga saat ini.

Selain itu Iskandar juga menjadi Ketua Dewan Pendiri Cinta Indonesia Cinta KPK (Cicak) Sumut, Ketua Dewan Pendiri Aliansi Masyarakat Anti Narkoba Indonesia (Almanak), dan mendirikan Lembaga Perlindungan Korban Mafia Hukum Amanah Rakyat Madani (LPKMH Armada), tokoh pendiri Gerakan Masyarakat Anti Anarkis dan Terorisme (Gemaster), dan banyak lagi organisasi kemasyakatan lainnya, baik sebagai tokoh pendiri maupun sebagai pengurus inti.

Iskandar juga tercatat pernah menerima penghargaan The Best Asean Executive Award pada tahun 2003. Melalui Star Foundation yang didirikannya tahun 2007, Iskandar juga dianugerahi Satya Lencana Kebaktian Sosial yang diserahkan langsung Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhono di Lapangan Merdeka Medan karena keaktifan dan kepedulian sosialnya Diantaranya mengirimkan relawan dan bantuan kereta sorong sebanyak 500 unit ke Banda Aceh untuk membantu bencana tsunami tahun 2004,Memberikan bantuan ribuan kacamata baca dan peralatan sekolah kepada anak-anak tidak mampu serta bantuan kepada sejumlah panti jompo dan panti asuhan dan kegiatan sosial lainnya.

Dia juga pernah mendapatkan penghargaan dari Gubernur Sumatera Utara era Rudolf M Pardede. Iskandar juga terpilih sebagai alumni terbaik Universitas Medan Area di bidang wirausaha.       Dan, masih banyak penghargaan lainnya yang pernah diterimanya baik dari pemerintah maupun dari berbagai lembaga atau organisasi.

Kini setelah hidupnya mapan, masih ada obsesi lain yang ingin dia wujudkan. Iskandar ingin menggugah semua orang menjadi pengusaha dengan menggagas GERAKAN MELAHIRKAN SEJUTA PENGUSAHA.

Selain itu, Iskandar juga bercita-cita mendirikan badan usaha sosial atau sebuah lembaga nirlaba berskala nasional untuk membantu masyarakat kurang mampu terutama dalam bidang pendidikan dan kesehatan.

28 Responses to “Profil Iskandar ST”

  1. Sihar M Sitinjak Says:

    Senang dengan orang ber-ide cemerlang dan brilyan tapi selalu peduli dengan wong cilik. Sukses Pak…

    Reply

  2. herman Says:

    good……sangat baik buat pembelajaran bagi pemuda sekarang ini….

    Reply

  3. Adri Says:

    sangat inspiratif. kisah hidup yg luar biasa. sukses selalu pak

    Reply

  4. admin Says:

    Terima Kasih

    Reply

  5. Valina Says:

    Dengan membaca biografi ini sj, sudah membuat keinginan menjadi entrepreneur dlm diri semakin menguat. Thx Pak Iskandar, semoga GERAKAN MELAHIRKAN SEJUTA PENGUSAHA dapat segera tercapai dengan sukses. :)

    Reply

  6. devy Says:

    subhanallah…. menjadi motivasi utk diri saya, semoga saya juga bisa bangkit dr keterpurukan diri saya saat ini spt kisah Bapak Iskandar, saya harus berjuang utk anak2 saya, tks.

    Reply

  7. alex Says:

    Pak Is pantas diteladani. Semoga akan ada banyak Pak Is yang lain lagi di Indonesia ini.

    Reply

  8. Bagus Says:

    Tulisannya menarik pak, sangat menyeluruh dan menyentuh…
    Saya ingin kontak Anda lebih lanjut, mohon PM saya ya pak..

    Terima Kasih sebelumnya,
    Bagus

    Reply

  9. Haryono Ok Says:

    Salam kenal pa Iskandar. Saya saat ini berprofesi sebagai PNS. Ingin sekali memulai usaha sampingan. Namun selalu ragu akan kemampuan saya. Apakah memang enterpreneurship itu bakat atau sesuatu yang bisa dipelajari? Trimasih sebelumnya.

    Reply

    • admin Says:

      entrepreneursip itu bisa di awali dengan bakat atau memang kebutuhan,selama anda memang merasa yakin,anda pasti mampu,apalagi hanya berbentuk usaha sampingan.

      Reply

  10. Charles David Silalahi, S.Pd., M.Hum (lie) Says:

    Saya terharu membaca riwayat singkat kehidupan Bapak Iskandar, ST. penuh suka dan duka dan tantangan yang kiranya semakin mendewasakan setiap pembaca.

    Namun, jika diperkenankan, saya memiliki ide cemerlang untuk mendukung/ mewujudkan cita-cita, impian Bapak yang belum tercapai itu… jika memungkinkan, ijinkan saya untuk mengutarakannya dalam sebuah pertemuan atau pengajuan proposal…

    Saat ini saya adalah seorang Mahasiswa Pascasarjana (S3) di Universitas Sumatera Utara programstudi Linguistik (Pekerjaan tetap saya adalah Dosen di Fakultas Sastra UMI, dan di beberapa Perguruan Tinggi lainnya di Medan dan sekitarnya). saya memiliki banyak kesamaan/ kemiripan dalam pengalaman dan riwayat yang tertuang di dalam deskripsi diri Bapak. dan saya akan sangat senang jika Bapak dapat sekedar untuk mendengarkan ide-ide yang saya miliki….

    salam,
    081265796979.

    Reply

    • admin Says:

      saya akan beritahu anda ,sebab saat ini saya masih berada di luar kota,saya akan konfirmasikan kepada anda setelah saya berada di medan

      Reply

  11. Sahat Says:

    Salam Dasyat Pak,

    Perkenakan saya sahat,mohon maaf sebelumnya saya mau menawarkan property di jakarta dan medan.siapa tau perusahaan bp berminat untuk investasi

    Sahat J Hasugian
    08129604765

    Reply

  12. Henry Simanullang,ST Says:

    luar bisa.., saya menjadi termotivasi, saya seorang pengusaha kecil-kecilan dan ingin diusia saya yang muda ini 31 tahun ingin lebih dari bapak Iskandar, tapi saya harus belajar dulu sama Bapak Iskandar tips dan trik untuk sukses…

    Reply

  13. Harmein Pane Says:

    ini rupanya pak Iskandar.

    tulisan-tulisan disini bagus, keep post ya pak.
    Sangat berguna bagi NetPreneur seperti saya

    Terimakasih dan salam dari Sipirok

    Reply

    • admin Says:

      Semoga Tulisan Saya Bermanfaat Bagi Pembaca Blog Saya .

      Reply

      • timah Says:

        saya ingin bertanya sm bpk, saya mengambil profil bpk sebagai salah satu pengusaha sukses di kota medan. yg ingin saya tanyakan :
        1. bagaimana sifat dan perilaku bpk sebagai pengusaha EO ?
        2. bagaimana sifat dan perilaku kerja dan prestatif bpk?
        3. bagaimana semangat kewirausahaan bpk?
        4. bagaimana jiwa kepemimpinan dan apa saja sifat-sifat nyaa?
        5. bagaimana komitmen bpk dlm berbisnis?
        mohon jawabannya yaa pak :)

        Reply

        • admin Says:

          1. Sebagai Pengusaha EO,Sebenarnya saya sudah tidak bergerak di bidang EO,Dahulu iya,sebagai pengusaha EO,tentunya saya ingin acara yang saya rancang sukses,sebagai salah satu point untuk saya dari pelanggan tentunya.

          2. Saya Pekerja keras,dan pemikir keras,sudah terbiasa dari zaman saya kuliah..intinya segala yang saya jalani dimulai dari niat,”jika niat saya baik,mudah-mudahan hasilnya baik ”

          3. Saya sangat bersemangat sekali,sebab saya memulai semua nya dari NOL..saya bukan keturunan orang berada..tetapi saya selalu berpikir 10 x jauh ke depan agar mendapatkan ide untuk sukses.

          4. Jiwa kepemimpinan relatif,tapi kalau saudara bertanya jiwa kepemimpinan saya,sampai saat ini,saya masih mampu menhandle semua nya,itu yang terpenting,setiap pekerjaan saya fahami,agar saya mengerti bagaimana jadi seorang pemimpin.

          5. Komitmen saya dalam berbisnis,kalau tidak dicoba kapan berhasil,kalau tidak berjalan kapan sampainya,kalau takut gagal,mending jadi karyawan dan menerima perintah.

          Reply

  14. max Says:

    tulisan bapak sangat inspiratif dan membuat pembaca semakin semangat dalam berusaha..:)

    Reply

  15. ian Says:

    tulisan bapak sangat inspiratif dan membuat saya semakin semangat untuk bangkit kembali,, sudi kiranya bapak memberikan masukan ika memungkinkan dapat merangkul agar kaula muda yang sedang terpuruk karena kegagalan dapat mengikuti jejak bapak sebagai orang sukses.
    besar harapan agar saya dapat mengikuti jejak bapak.
    trims

    Reply

  16. Alwan GAOL, ST. Says:

    Selamat Malam Pak Iskandar,
    Saya sangat bangga dengan sosok pak Iskandar, sosok yang sangat gigih tak mengenal kata lelah. Tahun 2001 saya dulu sempat bekerja di PT. Star Indonesia, sebagai staff electric. Sempat ikut beberapa EXPO yg diadakan oleh STAR Indonesia.
    Bravo Star Indonesia, sukses selalu buat pak Iskandar dan keluarga.

    Regards,

    Alwan GAOL, ST.

    Reply

  17. Dono Says:

    perjuangan yang luar biasa sekali pak, salut dengan kerja keras bapak. semoga bisa jadi bahan untuk memotivasi anak-anak didik saya di sekolah, mohon ijin ya pak.

    Reply

Trackbacks/Pingbacks

  1. gatot pujo nugroho - December 22, 2012

    […] Profil Iskandar ST […]

Leave a Reply

 

%d bloggers like this: